One More Night

Free Music Online
Free Music Online

free music at divine-music.info

Senin, 12 November 2012

Macam Macam Pemberian Oksigen


. BAB I
PENDAHULUANA.

  •  Latar Belakang
Kita menganggap bahwa pernapasan yang baik sebagai sesuatu yang wajar sehingga kita menyadari kita secara tarus menerus bernapas. Jika ada gangguan dalam pernapasan baru kita mengingat bahwa oksigen sangatlah penting. Kekurangan oksigen dalam beberapa menit saja dapat berakibat fatal bagi organ-organ pernapasan didalam tubuh kita, bahkan bisa mengakibatkan kematian. Oksigen (O2) merupakan komponen gas yang sangat berperan dalam proses metabolisme tubuh untuk mempertahankan kelangsungan hidup seluruh sel tubuh secara normal. Oksigen diperoleh dengan cara menghirup udara bebas dalam setiap kali bernafas. Dengan bernafas setiap sel tubuh menerima oksigen, dan pada saat yang sama melepaskan produk oksidasinya. Oksigen yang bersenyawa dengan karbon dan hidrogen dari jaringan memungkinkan setiap sel melangsungkan proses metabolismenya, oksigen hasil buangannya dalam bentuk karbondioksida (CO2) dan air (H2O). Terapi oksigen adalah memasukkan oksigen tambahan dari luar ke paru melalui saluran pernafasan dengan menggunakan alat sesuai kebutuhan. ( Standar Pelayanan Keperawatan di ICU, Dep.Kes. RI, 2005 ) . Terapi oksigen adalah memberikan aliran gas lebih dari 20 % pada tekanan 1 atmosphir sehingga konsentrasi oksigen meningkat dalam darah Terapi oksigen adalah pemberian oksigen dengan konsentrasi yang lebih tinggi dari yang ditemukan dalam atmosfir lingkungan. Pada ketinggian air laut konsentrasi oksigen dalam ruangan adalah 21 %, ( Brunner & Suddarth,2001 ). Sejalan dengan hal tersebut diatas menurut Titin, 2007, Terapi oksigen adalah suatu tindakan untuk meningkatkan tekanan parsial oksigen pada inspirasi, yang dapat dilakukan dengan cara : 1. Meningkatkan kadar oksigen inspirasi / FiO2 ( Orthobarik ) 2. Meningkatkan tekanan oksigen ( Hiperbarik Dalam makalah ini akan dibahas tentang penanganan pada gangguan pernapasan dengan macam – macam pemberian oksigen.
  • Rumusan Masalah
a) Apakah pengertian Ventury Mask ? b) Apakah pengertian Bag. Valve and mask ? c) Apakah pengertian Pipa oropharing dan nasopharing ? d) Apakah pengertian Intubasi endrotrakheal ?C. Tujuan Masalah a) Tujuan Umum Untuk Menambah wawasan dan pengetahuan tentang macam – macam pemberian oksigen khususnya pada mahasiswa/i calon petugas medis agar supaya bisa mempersiapkan sedini mungkin untuk penanganan kasus tersebut. b) Tujuan Khusus  Mengenal dan memahami tentangØ pengertian macam – macam pemberian oksigen  MengertiØ tentang Ventury Mask  Untuk memahami Bag. Valve and maskØ Ø Untuk memahami Pipa oropharing dan nasopharing  Untuk MemahamiØ Intubasi endrotrakheal


BAB II
PEMBAHASAN.
Tujuannya untuk mendapatkan oksigenasi yang adekuat sekalian meminimalkan kerja kardiopulmonal.
Oksigen merupakan obat bila sesuai dosis,juga mempunnyai efek samping.
 Namun bila diberikan dengan benar.

Nasal cannule
 Pemberian oksigen langsung melalui nasal prongs
 Dapat digunakan untuk jangka panjang
  Mencegah rebreathing
Dapat digunakan selama makan dan berbicara
Iritasi lokal, dermatitis dan perdarahan hidung dapat terjadi dan volume pemberian diatas 4l/min tidak boleh diberikan secara rutin.
Pengertian Ventury Mask Adalah metode pemberian yang paling akurat dan dapat diandalkan untuk konsentrasioksigen yang tepat melalui cara non – infasif. Masker dibuat sedemikian rupa sehinggamemungkinkan udara ruangan bercampur dengan aliran oksigen yang telah ditetapkan.Masker ini digunakan terutama bagi pasien PPOM karena memberikan suplemen oksigentingkat rendah, sehingga menghindari resiko dorongan hipoksik. (Brenda, Suzanne, 2001) Masker venturi menerapkan prinsip Entrainmen udara (menjebak udara seperti vakum), yang memberikan aliran udara yang tinggi dengan pengayaan oksigen terkontrol. Kelebihan gas keluar masker melalui cuff perforasi, membawa gas tersebut bersama karbondioksida yang dihembuskan. Mtode ini memungkinkan konsentrasi oksigen yang konstan untuk dihirup yang tidak tergantung pada kedalaman dan kecepatan perafasan. Masker harus terpasang dengan pas, untuk mencegah oksigen mengalir ke dalam mata, dan kulit pasien diperiksa terhadap iritasi. Prinsip pemberian oksigen dgn alat ini yaitu gas yg dialirkan dari tabung akan menuju ke masker yg kemudian akan dihimpit utk mengatur suplai oksigen shg tercipta tekanan negative, akibatnya udara luar dapat dihisap dan aliran udara yg dihasilkan lebih banyak. Masker venturi dpt memberikan aliran yg bervariasi : 4 – 14 liter/menit dgn konsentrasi 24– 50%. Dipakai pd pasien dg tipe ventilasi tidak teratur. (FIO2 24%– 28%) Keuntungan venturi mask :
 Konsentrasi oksigen yg diberikanØ4.  konstan sesuai dgn petunjuk pd alat dan tidak dipengaruhi perubahan pola napas terhadap FiO2.  Suhu dan kelembaban gas dapatØ dikontrol.  Tidak terjadi penumpukan C O2.Ø Kerugian venturi mask :  Masker harus dilepaskan sehingga pasien tidak dapat makan, minum,Ø dan minum obat.  Konsentrasi oksigen : 24 – 50 %Ø  AliranØ oksigen : 4 – 10 LPMB. Pengertian Bag. Valve and Mask Bag Valve Mask yang juga dikenal BVM atau Ambubag adalah alat yang digunakanuntuk memberikan tekanan pada sistem pernafasan pasien yang henti nafas atau yangnafasnya tidak adekuat. Alat ini umumnya merupakan bagian dari peralatan resusitasi untuktenaga ahli, seperti pekerja Ambulans. Alat ini digunakan secara ekstensif di ruang operasiuntuk bantuan pernafasan pasien yang tidak sadar pada saat sebelum diberikan bantuanpernafasan mekanik. (Brenda, Suzanne, 2001). Bag Valve Mask digunakan pada pasien :  Cardiac arrest .Ø  Respiratory failureØ  Sebelum,Ø selama dan sesudah suction Gas flows 12 – 15 liter, selama resusitasi buatan, hiperinflasi / bagging, kantong resusitasi dengan reservoir harus digunakan untuk memberikan konsentrasi oksigen 74 % - 100 %. Dianjurkan selang yang bengkok tidak digunakan sebagai reservoir untuk kantong ventilasi. Kantong 2.5 liter dengan kecepatan 15 liter/menit telah ditunjukkan untuk pemberian oksigen yang konsisten dengan konsentrasi 95 % - 100 %. Penggunaan kantong reservoar 2.5 liter juga memberikan jaminan visual bahwa aliran oksigen utuh dan kantong menerima oksigen tambahan. Pengetahuan tentang kantong dan keterampilan penggunaan adalah vital :  Kekuatan pemijatanØ menentukan volume tidal ( VT )  Jumlah pijatan permenit menentukanØ frekuensi  Kekuatan dan frekuensi menentukan aliran puncakØ

 ØHal – hal yang harus diperhatikan dalam pemberian Bag Valve Mask : Observasi dada pasien untuk menentukan kantong bekerja dengan baik dan apakah  Kemudahan / tahanan saat pemompaanØterjadi distensi abdomen  Risiko terjadinya peningkatan sekresi,Ømengindikasikan komplain paru pneumothorak, hemothorak, atau spasme bronkus yang memburuk.Syarat –  Kemampuan kantong untuk memberikan oksigenØsyarat Resusitator manual :  Masker bila dibutuhkan harus transparan untukØ100 % pada kondisi akut memudahkan observasi terhadap muntah / darah yang dapat mengakibatkan Ø Sistem katup yang berfungsi tanpa gangguan pada kondisi akutØaspirasi Pembersihan dan pendauran ketahanan kantong. Ambu bag terdiri dari bag yang berfungsi untuk memompa oksigen udarabebas, valve/pipa berkatup dan masker yang menutupi mulut dan hidung penderita.Penggunaan ambu bag atau bagging sungkup memerlukan keterampilan tersendiri dalamhal memberikan bantuan nafas. Penolong seorang diri dalam menggunakan ambubagharus dapat mempertahankan terbukanya jalan nafas dengan mengangkat rahang bawah,menekan sungkup ke muka korban dengan kuat dan memompa udara dengan memerasbagging. Penolong harus dapat melihat dengan jelas pergerakan dada korban pada setiappernafasan. Ambubag sangat efektif bila dilakukan oleh dua orang penolong yangberpengalaman. Salah seorang penolong membuka jalan nafas dan menempelkansungkup wajah korban dan penolong lain memeras bagging. Kedua penolong harusmemperhatikan pengembangan dada korban Ambu bag digunakan dengan satu tangan penolong memegang bag sambilmemompa udara sedangkan tangan lainnya memegang dan memfiksasi masker. PadaTangan yang memegang masker, ibu jari dan jari telunjuk memegang maskermembentuk huruf C sedangkan jari-jari lainnya memegang rahang bawah penderitasekaligus membuka jalan nafas penderita dengan membentuk huruf E. Konsentrasioksigen yang dihasilkan dari ambu bag sekitar 20 %. Dapat ditingkatkan menjadi 100%dengan tambahan oksigen. Untuk kondisi yang mana penderita mengalami henti nafasdan henti jantung, dilakukan resusitasi jantung-paru-otak.

Pengertian Pipa Oropharing dan Nasopharing Oropharyngeal tube adalah sebuah tabung / pipa yang dipasang antara mulut dan pharynx pada orang yang tidak sadar yang berfungsi untuk membebaskan jalan nafas. (Medical Dictionary) Pembebasan jalan nafas dengan oropharyngeal tube adalah cara yang ideal untuk mengembalikan sebuah kepatenan jalan nafas yang menjadi terhambat oleh lidah pasien yang tidak sadar atau untuk membantu ventilasi (Sally Betty,2005) Oropharyngeal tube adalah alat yang terbuat dari karet bengkok atau plastik yang dimasukkan pada mulut ke pharynx posterior untuk menetapkan atau memelihara kepatenan jalan nafas. (William dan Wilkins). Pada pasien tidak sadar, lidah biasanya jatuh ke bagian pharynx posterior sehingga menghalangi jalan nafas, sehingga pemasangan oropharyngeal tube yang bentuknya telah disesuaikan dengan palatum / langit-langit mulut mampu membebaskan dan mengedarkan jalan nafas melalui tabung / lubang pipa. Dapat juga berfungsi untuk memfasilitasi pelaksanaan suction. Pembebasan jalan nafas dengan oropharingeal tube digunakan dalam jangka waktu pendek pada post anastesi atau langkah postictal. Penggunaan jangka panjang dimungkinkan pada pasien yang terpasang endotracheal tube untuk menghindari gigitan pada selang endotraceal. Organ-organ yang terlibat dalam oropharyngeal airway : a. Nasofaring (terdapat pharyngeal tonsil dan Tuba Eustachius) b. Orofaring (merupakan pertemuan rongga mulut dengan faring,terdapat pangkal lidah c. Laringofaring(terjadi persilangan antara aliran udara dan aliran makanan) Indikasi dan Kontra Indikasi : a. Indikasi Adapun indikasi pemasangan oropharyngeal tube adalah sebagai berikut :  Pemeliharaan jalanØ nafas pasien dalam ketidaksadaran,  Melindungi endotracheal tubeØ dari gigitan,  Memfasilitasi suction pada jalan nafasØ b. Kontra indikasi Tidak boleh diberikan pada pasien dengan keadaan sadar ataupun semi sadar karena dapat merangsang muntah, spasme laring. Harus berhati-hati bila terdapat trauma oral.
 Pemasangan Pipa (Tube) Dipasang jalan napas buatan (pipa orofaring, pipa nasofaring). Pipa orofaringdigunakan untuk mempertahankan jalan nafas dan menahan pangkal lidah agar tidakjatuh ke belakang yang dapat menutup jalan napas terutama pada pasien-pasien tidaksadar. Bila dengan pemasangan jalan napas tersebut pernapasan belum juga baik,dilakukan pemasangan pipa endotrakhea (ETT/endotracheal tube). Pemasangan pipaendotrakhea akan menjamin jalan napas tetap terbuka, menghindari aspirasi danmemudahkan tindakan bantuan pernapasan.1. Pipa Oropharing Sebuah jalan napas orofaringeal (juga dikenal sebagai saluran udara lisan, OPA atau saluran napas Guedel pola) adalah perangkat medis yang disebut tambahan digunakan untuk menjaga jalan nafas paten (terbuka) . Hal ini dilakukan dengan mencegah lidah dari meliputi epiglotis , yang bisa mencegah orang dari pernapasan. Ketika seseorang
 jika seseorang memiliki refleks muntah-muntah mereka mungkin ketika terlalu besar, dapat menutup glotis dan demikian dekat jalan napas ukuran yang tidak benar dapat menyebabkan perdarahan pada saluran udara2. Pipa Nasopharing Dalam kedokteran , suatu saluran napas nasofaring, juga dikenal sebagai NPA atau terompet hidung karena akhir berkobar, sebuah jenis saluran napas tambahan, adalah sebuah tabung yang dirancang untuk dimasukkan ke dalam lorong hidung untuk mengamankan terbuka jalan napas . Ketika seorang pasien menjadi tidak sadar, otot-otot di rahang umumnya santai dan dapat memungkinkan lidah untuk meluncur kembali dan menyumbat jalan napas.
Tujuan akhir menyala adalah untuk mencegah perangkat dari menjadi hilang di dalam kepala pasien. (Daniel dan Michael F. Limmer OKeefe. 2005) Indikasi dan kontraindikasi Nasofaring saluran udara kadang-kadang digunakan oleh orang yang memiliki sleep apnea . Alat ini juga digunakan oleh para profesional perawatan darurat seperti EMT dan paramedis dalam situasi di mana bentuk pemeliharaan jalan napas buatan diperlukan tetapi tidak mungkin atau disarankan untuk menggunakan jalan napas orofaringeal , jenis yang disukai saluran napas tambahan, atau intubasi , dianggap paling cara tertentu untuk mengamankan jalan napas paten, tetapi juga yang paling invasif medis. Dalam pasien tak sadarkan diri, hisap dari saluran napas atas juga dapat diterapkan melalui NPA. Penyisipan dari NPA merupakan kontraindikasi pada pasien dengan cedera kepala berat atau wajah, atau memiliki bukti patah tulang tengkorak basilar ( tanda Battle , mata rakun, cairan serebrospinal / darah dari telinga, dll) karena kemungkinan penyusupan langsung pada jaringan otak . Sebuah jalan napas orofaringeal dapat digunakan sebagai pengganti, tetapi perangkat ini sering memicu pasien refleks muntah , sementara saluran udara nasofaring biasanya tidak. Jalan napas ukuran yang benar dipilih dengan mengukur perangkat pada pasien:. Perangkat harus mencapai dari lubang hidung pasien ke daun telinga atau sudut rahang. Bagian luar tabung dilumasi dengan pelumas berbasis air sehingga memasuki hidung lebih mudah. Perangkat dimasukkan sampai akhir berkobar menyentuh lubang hidung. (Daniel dan Michael F. Limmer OKeefe. 2005)
Pengertian Intubasi Endrotrakheal Intubasi adalah memasukkan suatu lubang atau pipa melalui mulut atau melalui hidung, dengan sasaran jalan nafas bagian atas atau trakhea. Pada intinya, Intubasi Endotrakhea adalah tindakan memasukkan pipa endotrakha ke dalam trakhea sehingga jalan nafas bebas hambatan dan nafas mudah dibantu dan dikendalikan (Hendrickson ,2002),
 Tujuan Intubasi Endotrakhea. Tujuan dilakukannya tindakan intubasi endotrakhea adalah untuk membersihkan saluran trakheobronchial, mempertahankan jalan nafas agar tetap paten, mencegah aspirasi, serta mempermudah pemberian ventilasi dan oksigenasi bagi pasien operasi. Pada dasarnya, tujuan intubasi endotrakheal (Anonim, 1986) : a. Mempermudah pemberian anestesia. b. Mempertahankan jalan nafas agar tetap bebas serta mempertahankan kelancaran pernafasan. c. Mencegah kemungkinan terjadinya aspirasi isi lambung (pada keadaan tidak sadar, lambung penuh dan tidak ada refleks batuk). d. Mempermudah pengisapan sekret trakheobronchial. e. Pemakaian ventilasi mekanis yang lama. f. Mengatasi obstruksi laring akut. Indikasi dan Kontraindikasi. Indikasi bagi pelaksanaan intubasi endotrakheal menurut Gisele tahun 2002 antara lain :
Keadaan oksigenasi yang tidak adekuat (karena menurunnya tekanan oksigen arteri dan lain-lain) yang tidak dapat dikoreksi dengan pemberian suplai oksigen melalui masker nasal.2. Keadaan ventilasi yang tidak adekuat karena meningkatnya tekanan karbondioksida di arteri.3. Kebutuhan untuk mengontrol dan mengeluarkan sekret pulmonal atau sebagai bronchial toilet.4. Menyelenggarakan proteksi terhadap pasien dengan keadaan yang gawat atau pasien dengan refleks akibat sumbatan yang terjadi. Dalam sumber lain (Anonim, 1986) disebutkan indikasi intubasi endotrakhealantara lain:a. Menjaga jalan nafas yang bebas dalam keadaan-keadaan yang sulit.b. Operasi-operasi di daerah kepala, leher, mulut, hidung dan tenggorokan, karena pada kasus-kasus demikian sangatlah sukar untuk menggunakan face mask tanpa mengganggu pekerjaan ahli bedah.c. Pada banyak operasi abdominal, untuk menjamin pernafasan yang tenang dan tidak ada ketegangan.d. Operasi intra torachal, agar jalan nafas selalu paten, suction dilakukan dengan mudah, memudahkan respiration control dan mempermudah pengontrolan tekanan intra pulmonal.e. Untuk mencegah kontaminasi trachea, misalnya pada obstruksi intestinal.f. Pada pasien yang mudah timbul laringospasme.g. Tracheostomni.h. Pada pasien dengan fiksasi vocal chords. Menurut Gisele, 2002 ada beberapa kontra indikasi bagi dilakukannya intubasiendotrakheal antara lain :a. Beberapa keadaan trauma jalan nafas atau obstruksi yang tidak memungkinkan untuk dilakukannya intubasi. Tindakan yang harus dilakukan adalah cricothyrotomy pada beberapa kasus.b. Trauma servikal yang memerlukan keadaan imobilisasi tulang vertebra servical, sehingga sangat sulit untuk dilakukan intubasi.Obat-Obatan yang Dipakai. Berikut ini adalah obat-obat yang biasa dipakai dalam tindakan intubasiendotrakheal (Anonim, 1986), antara lain :




BAB III
PENUTUP.

 KESIMPULAN
Oksigen (O2) merupakan komponen gas yang sangat berperan dalam proses metabolisme tubuh untuk mempertahankan kelangsungan hidup seluruh sel tubuh secara normal. Oksigen diperoleh dengan cara menghirup udara bebas dalam setiap kali bernafas. Dengan bernafas setiap sel tubuh menerima oksigen, dan pada saat yang sama melepaskan produk oksidasinya. Oksigen yang bersenyawa dengan karbon dan hidrogen dari jaringan memungkinkan setiap sel melangsungkan proses metabolismenya, oksigen hasil buangannya dalam bentuk karbondioksida (CO2) dan air (H2O). Terapi oksigen adalah memasukkan oksigen tambahan dari luar ke paru melalui saluran pernafasan dengan menggunakan alat sesuai kebutuhan. ( Standar Pelayanan Keperawatan di ICU, Dep.Kes. RI, 2005 ) . Terapi oksigen adalah memberikan aliran gas lebih dari 20 % pada tekanan 1 atmosphir sehingga konsentrasi oksigen meningkat dalam darah. Terapi oksigen adalah pemberian oksigen dengan konsentrasi yang lebih tinggi dari yang ditemukan dalam atmosfir lingkungan.B.
SARAN
Berdasarkan kesimpulan diatas saran yang dapat kami buat yaitu untuk lebihmemperdalam lagi tentang macam – macam pemberian oksigen karena dalam makalah kamitentunya masih banyak kekuranagannya.











DAFTAR PUSTAKA
Anonim, (2002), Endotracheal Intubation, http://www.medicinet.com/script/main/art.asp?li=mni&articlekey=7035Gail Hendrickson, RN, BS., (2002), Intubation, http://www.health.discovery.com/diseasesandcond/encyclopedia/1219.htmlGisele de Azevedo Prazeres, MD., (2002), Orotracheal Intubation, http://www.medstudents.com/orotrachealintubation/medicalprocedures.htmlMansjoer Arif, Suprohaita, Wardhani W.I., Setiowulan W., (ed)., (2002), Kapita SelektaKedokteran, edisi III, Jilid 2, Media Aesculapius Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia,Jakarta.Suanne C. Smeltzer. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. EGC. JakartaPotter & Perry. 2000. Fundamental Keperawatan Edisi IV Vol. 1. EGC. Jakarta 

Tidak ada komentar: