One More Night

Free Music Online
Free Music Online

free music at divine-music.info

Senin, 12 November 2012

Macam Macam Pemberian Oksigen


. BAB I
PENDAHULUANA.

  •  Latar Belakang
Kita menganggap bahwa pernapasan yang baik sebagai sesuatu yang wajar sehingga kita menyadari kita secara tarus menerus bernapas. Jika ada gangguan dalam pernapasan baru kita mengingat bahwa oksigen sangatlah penting. Kekurangan oksigen dalam beberapa menit saja dapat berakibat fatal bagi organ-organ pernapasan didalam tubuh kita, bahkan bisa mengakibatkan kematian. Oksigen (O2) merupakan komponen gas yang sangat berperan dalam proses metabolisme tubuh untuk mempertahankan kelangsungan hidup seluruh sel tubuh secara normal. Oksigen diperoleh dengan cara menghirup udara bebas dalam setiap kali bernafas. Dengan bernafas setiap sel tubuh menerima oksigen, dan pada saat yang sama melepaskan produk oksidasinya. Oksigen yang bersenyawa dengan karbon dan hidrogen dari jaringan memungkinkan setiap sel melangsungkan proses metabolismenya, oksigen hasil buangannya dalam bentuk karbondioksida (CO2) dan air (H2O). Terapi oksigen adalah memasukkan oksigen tambahan dari luar ke paru melalui saluran pernafasan dengan menggunakan alat sesuai kebutuhan. ( Standar Pelayanan Keperawatan di ICU, Dep.Kes. RI, 2005 ) . Terapi oksigen adalah memberikan aliran gas lebih dari 20 % pada tekanan 1 atmosphir sehingga konsentrasi oksigen meningkat dalam darah Terapi oksigen adalah pemberian oksigen dengan konsentrasi yang lebih tinggi dari yang ditemukan dalam atmosfir lingkungan. Pada ketinggian air laut konsentrasi oksigen dalam ruangan adalah 21 %, ( Brunner & Suddarth,2001 ). Sejalan dengan hal tersebut diatas menurut Titin, 2007, Terapi oksigen adalah suatu tindakan untuk meningkatkan tekanan parsial oksigen pada inspirasi, yang dapat dilakukan dengan cara : 1. Meningkatkan kadar oksigen inspirasi / FiO2 ( Orthobarik ) 2. Meningkatkan tekanan oksigen ( Hiperbarik Dalam makalah ini akan dibahas tentang penanganan pada gangguan pernapasan dengan macam – macam pemberian oksigen.
  • Rumusan Masalah
a) Apakah pengertian Ventury Mask ? b) Apakah pengertian Bag. Valve and mask ? c) Apakah pengertian Pipa oropharing dan nasopharing ? d) Apakah pengertian Intubasi endrotrakheal ?C. Tujuan Masalah a) Tujuan Umum Untuk Menambah wawasan dan pengetahuan tentang macam – macam pemberian oksigen khususnya pada mahasiswa/i calon petugas medis agar supaya bisa mempersiapkan sedini mungkin untuk penanganan kasus tersebut. b) Tujuan Khusus  Mengenal dan memahami tentangØ pengertian macam – macam pemberian oksigen  MengertiØ tentang Ventury Mask  Untuk memahami Bag. Valve and maskØ Ø Untuk memahami Pipa oropharing dan nasopharing  Untuk MemahamiØ Intubasi endrotrakheal


BAB II
PEMBAHASAN.
Tujuannya untuk mendapatkan oksigenasi yang adekuat sekalian meminimalkan kerja kardiopulmonal.
Oksigen merupakan obat bila sesuai dosis,juga mempunnyai efek samping.
 Namun bila diberikan dengan benar.

Nasal cannule
 Pemberian oksigen langsung melalui nasal prongs
 Dapat digunakan untuk jangka panjang
  Mencegah rebreathing
Dapat digunakan selama makan dan berbicara
Iritasi lokal, dermatitis dan perdarahan hidung dapat terjadi dan volume pemberian diatas 4l/min tidak boleh diberikan secara rutin.
Pengertian Ventury Mask Adalah metode pemberian yang paling akurat dan dapat diandalkan untuk konsentrasioksigen yang tepat melalui cara non – infasif. Masker dibuat sedemikian rupa sehinggamemungkinkan udara ruangan bercampur dengan aliran oksigen yang telah ditetapkan.Masker ini digunakan terutama bagi pasien PPOM karena memberikan suplemen oksigentingkat rendah, sehingga menghindari resiko dorongan hipoksik. (Brenda, Suzanne, 2001) Masker venturi menerapkan prinsip Entrainmen udara (menjebak udara seperti vakum), yang memberikan aliran udara yang tinggi dengan pengayaan oksigen terkontrol. Kelebihan gas keluar masker melalui cuff perforasi, membawa gas tersebut bersama karbondioksida yang dihembuskan. Mtode ini memungkinkan konsentrasi oksigen yang konstan untuk dihirup yang tidak tergantung pada kedalaman dan kecepatan perafasan. Masker harus terpasang dengan pas, untuk mencegah oksigen mengalir ke dalam mata, dan kulit pasien diperiksa terhadap iritasi. Prinsip pemberian oksigen dgn alat ini yaitu gas yg dialirkan dari tabung akan menuju ke masker yg kemudian akan dihimpit utk mengatur suplai oksigen shg tercipta tekanan negative, akibatnya udara luar dapat dihisap dan aliran udara yg dihasilkan lebih banyak. Masker venturi dpt memberikan aliran yg bervariasi : 4 – 14 liter/menit dgn konsentrasi 24– 50%. Dipakai pd pasien dg tipe ventilasi tidak teratur. (FIO2 24%– 28%) Keuntungan venturi mask :
 Konsentrasi oksigen yg diberikanØ4.  konstan sesuai dgn petunjuk pd alat dan tidak dipengaruhi perubahan pola napas terhadap FiO2.  Suhu dan kelembaban gas dapatØ dikontrol.  Tidak terjadi penumpukan C O2.Ø Kerugian venturi mask :  Masker harus dilepaskan sehingga pasien tidak dapat makan, minum,Ø dan minum obat.  Konsentrasi oksigen : 24 – 50 %Ø  AliranØ oksigen : 4 – 10 LPMB. Pengertian Bag. Valve and Mask Bag Valve Mask yang juga dikenal BVM atau Ambubag adalah alat yang digunakanuntuk memberikan tekanan pada sistem pernafasan pasien yang henti nafas atau yangnafasnya tidak adekuat. Alat ini umumnya merupakan bagian dari peralatan resusitasi untuktenaga ahli, seperti pekerja Ambulans. Alat ini digunakan secara ekstensif di ruang operasiuntuk bantuan pernafasan pasien yang tidak sadar pada saat sebelum diberikan bantuanpernafasan mekanik. (Brenda, Suzanne, 2001). Bag Valve Mask digunakan pada pasien :  Cardiac arrest .Ø  Respiratory failureØ  Sebelum,Ø selama dan sesudah suction Gas flows 12 – 15 liter, selama resusitasi buatan, hiperinflasi / bagging, kantong resusitasi dengan reservoir harus digunakan untuk memberikan konsentrasi oksigen 74 % - 100 %. Dianjurkan selang yang bengkok tidak digunakan sebagai reservoir untuk kantong ventilasi. Kantong 2.5 liter dengan kecepatan 15 liter/menit telah ditunjukkan untuk pemberian oksigen yang konsisten dengan konsentrasi 95 % - 100 %. Penggunaan kantong reservoar 2.5 liter juga memberikan jaminan visual bahwa aliran oksigen utuh dan kantong menerima oksigen tambahan. Pengetahuan tentang kantong dan keterampilan penggunaan adalah vital :  Kekuatan pemijatanØ menentukan volume tidal ( VT )  Jumlah pijatan permenit menentukanØ frekuensi  Kekuatan dan frekuensi menentukan aliran puncakØ

 ØHal – hal yang harus diperhatikan dalam pemberian Bag Valve Mask : Observasi dada pasien untuk menentukan kantong bekerja dengan baik dan apakah  Kemudahan / tahanan saat pemompaanØterjadi distensi abdomen  Risiko terjadinya peningkatan sekresi,Ømengindikasikan komplain paru pneumothorak, hemothorak, atau spasme bronkus yang memburuk.Syarat –  Kemampuan kantong untuk memberikan oksigenØsyarat Resusitator manual :  Masker bila dibutuhkan harus transparan untukØ100 % pada kondisi akut memudahkan observasi terhadap muntah / darah yang dapat mengakibatkan Ø Sistem katup yang berfungsi tanpa gangguan pada kondisi akutØaspirasi Pembersihan dan pendauran ketahanan kantong. Ambu bag terdiri dari bag yang berfungsi untuk memompa oksigen udarabebas, valve/pipa berkatup dan masker yang menutupi mulut dan hidung penderita.Penggunaan ambu bag atau bagging sungkup memerlukan keterampilan tersendiri dalamhal memberikan bantuan nafas. Penolong seorang diri dalam menggunakan ambubagharus dapat mempertahankan terbukanya jalan nafas dengan mengangkat rahang bawah,menekan sungkup ke muka korban dengan kuat dan memompa udara dengan memerasbagging. Penolong harus dapat melihat dengan jelas pergerakan dada korban pada setiappernafasan. Ambubag sangat efektif bila dilakukan oleh dua orang penolong yangberpengalaman. Salah seorang penolong membuka jalan nafas dan menempelkansungkup wajah korban dan penolong lain memeras bagging. Kedua penolong harusmemperhatikan pengembangan dada korban Ambu bag digunakan dengan satu tangan penolong memegang bag sambilmemompa udara sedangkan tangan lainnya memegang dan memfiksasi masker. PadaTangan yang memegang masker, ibu jari dan jari telunjuk memegang maskermembentuk huruf C sedangkan jari-jari lainnya memegang rahang bawah penderitasekaligus membuka jalan nafas penderita dengan membentuk huruf E. Konsentrasioksigen yang dihasilkan dari ambu bag sekitar 20 %. Dapat ditingkatkan menjadi 100%dengan tambahan oksigen. Untuk kondisi yang mana penderita mengalami henti nafasdan henti jantung, dilakukan resusitasi jantung-paru-otak.

Pengertian Pipa Oropharing dan Nasopharing Oropharyngeal tube adalah sebuah tabung / pipa yang dipasang antara mulut dan pharynx pada orang yang tidak sadar yang berfungsi untuk membebaskan jalan nafas. (Medical Dictionary) Pembebasan jalan nafas dengan oropharyngeal tube adalah cara yang ideal untuk mengembalikan sebuah kepatenan jalan nafas yang menjadi terhambat oleh lidah pasien yang tidak sadar atau untuk membantu ventilasi (Sally Betty,2005) Oropharyngeal tube adalah alat yang terbuat dari karet bengkok atau plastik yang dimasukkan pada mulut ke pharynx posterior untuk menetapkan atau memelihara kepatenan jalan nafas. (William dan Wilkins). Pada pasien tidak sadar, lidah biasanya jatuh ke bagian pharynx posterior sehingga menghalangi jalan nafas, sehingga pemasangan oropharyngeal tube yang bentuknya telah disesuaikan dengan palatum / langit-langit mulut mampu membebaskan dan mengedarkan jalan nafas melalui tabung / lubang pipa. Dapat juga berfungsi untuk memfasilitasi pelaksanaan suction. Pembebasan jalan nafas dengan oropharingeal tube digunakan dalam jangka waktu pendek pada post anastesi atau langkah postictal. Penggunaan jangka panjang dimungkinkan pada pasien yang terpasang endotracheal tube untuk menghindari gigitan pada selang endotraceal. Organ-organ yang terlibat dalam oropharyngeal airway : a. Nasofaring (terdapat pharyngeal tonsil dan Tuba Eustachius) b. Orofaring (merupakan pertemuan rongga mulut dengan faring,terdapat pangkal lidah c. Laringofaring(terjadi persilangan antara aliran udara dan aliran makanan) Indikasi dan Kontra Indikasi : a. Indikasi Adapun indikasi pemasangan oropharyngeal tube adalah sebagai berikut :  Pemeliharaan jalanØ nafas pasien dalam ketidaksadaran,  Melindungi endotracheal tubeØ dari gigitan,  Memfasilitasi suction pada jalan nafasØ b. Kontra indikasi Tidak boleh diberikan pada pasien dengan keadaan sadar ataupun semi sadar karena dapat merangsang muntah, spasme laring. Harus berhati-hati bila terdapat trauma oral.
 Pemasangan Pipa (Tube) Dipasang jalan napas buatan (pipa orofaring, pipa nasofaring). Pipa orofaringdigunakan untuk mempertahankan jalan nafas dan menahan pangkal lidah agar tidakjatuh ke belakang yang dapat menutup jalan napas terutama pada pasien-pasien tidaksadar. Bila dengan pemasangan jalan napas tersebut pernapasan belum juga baik,dilakukan pemasangan pipa endotrakhea (ETT/endotracheal tube). Pemasangan pipaendotrakhea akan menjamin jalan napas tetap terbuka, menghindari aspirasi danmemudahkan tindakan bantuan pernapasan.1. Pipa Oropharing Sebuah jalan napas orofaringeal (juga dikenal sebagai saluran udara lisan, OPA atau saluran napas Guedel pola) adalah perangkat medis yang disebut tambahan digunakan untuk menjaga jalan nafas paten (terbuka) . Hal ini dilakukan dengan mencegah lidah dari meliputi epiglotis , yang bisa mencegah orang dari pernapasan. Ketika seseorang
 jika seseorang memiliki refleks muntah-muntah mereka mungkin ketika terlalu besar, dapat menutup glotis dan demikian dekat jalan napas ukuran yang tidak benar dapat menyebabkan perdarahan pada saluran udara2. Pipa Nasopharing Dalam kedokteran , suatu saluran napas nasofaring, juga dikenal sebagai NPA atau terompet hidung karena akhir berkobar, sebuah jenis saluran napas tambahan, adalah sebuah tabung yang dirancang untuk dimasukkan ke dalam lorong hidung untuk mengamankan terbuka jalan napas . Ketika seorang pasien menjadi tidak sadar, otot-otot di rahang umumnya santai dan dapat memungkinkan lidah untuk meluncur kembali dan menyumbat jalan napas.
Tujuan akhir menyala adalah untuk mencegah perangkat dari menjadi hilang di dalam kepala pasien. (Daniel dan Michael F. Limmer OKeefe. 2005) Indikasi dan kontraindikasi Nasofaring saluran udara kadang-kadang digunakan oleh orang yang memiliki sleep apnea . Alat ini juga digunakan oleh para profesional perawatan darurat seperti EMT dan paramedis dalam situasi di mana bentuk pemeliharaan jalan napas buatan diperlukan tetapi tidak mungkin atau disarankan untuk menggunakan jalan napas orofaringeal , jenis yang disukai saluran napas tambahan, atau intubasi , dianggap paling cara tertentu untuk mengamankan jalan napas paten, tetapi juga yang paling invasif medis. Dalam pasien tak sadarkan diri, hisap dari saluran napas atas juga dapat diterapkan melalui NPA. Penyisipan dari NPA merupakan kontraindikasi pada pasien dengan cedera kepala berat atau wajah, atau memiliki bukti patah tulang tengkorak basilar ( tanda Battle , mata rakun, cairan serebrospinal / darah dari telinga, dll) karena kemungkinan penyusupan langsung pada jaringan otak . Sebuah jalan napas orofaringeal dapat digunakan sebagai pengganti, tetapi perangkat ini sering memicu pasien refleks muntah , sementara saluran udara nasofaring biasanya tidak. Jalan napas ukuran yang benar dipilih dengan mengukur perangkat pada pasien:. Perangkat harus mencapai dari lubang hidung pasien ke daun telinga atau sudut rahang. Bagian luar tabung dilumasi dengan pelumas berbasis air sehingga memasuki hidung lebih mudah. Perangkat dimasukkan sampai akhir berkobar menyentuh lubang hidung. (Daniel dan Michael F. Limmer OKeefe. 2005)
Pengertian Intubasi Endrotrakheal Intubasi adalah memasukkan suatu lubang atau pipa melalui mulut atau melalui hidung, dengan sasaran jalan nafas bagian atas atau trakhea. Pada intinya, Intubasi Endotrakhea adalah tindakan memasukkan pipa endotrakha ke dalam trakhea sehingga jalan nafas bebas hambatan dan nafas mudah dibantu dan dikendalikan (Hendrickson ,2002),
 Tujuan Intubasi Endotrakhea. Tujuan dilakukannya tindakan intubasi endotrakhea adalah untuk membersihkan saluran trakheobronchial, mempertahankan jalan nafas agar tetap paten, mencegah aspirasi, serta mempermudah pemberian ventilasi dan oksigenasi bagi pasien operasi. Pada dasarnya, tujuan intubasi endotrakheal (Anonim, 1986) : a. Mempermudah pemberian anestesia. b. Mempertahankan jalan nafas agar tetap bebas serta mempertahankan kelancaran pernafasan. c. Mencegah kemungkinan terjadinya aspirasi isi lambung (pada keadaan tidak sadar, lambung penuh dan tidak ada refleks batuk). d. Mempermudah pengisapan sekret trakheobronchial. e. Pemakaian ventilasi mekanis yang lama. f. Mengatasi obstruksi laring akut. Indikasi dan Kontraindikasi. Indikasi bagi pelaksanaan intubasi endotrakheal menurut Gisele tahun 2002 antara lain :
Keadaan oksigenasi yang tidak adekuat (karena menurunnya tekanan oksigen arteri dan lain-lain) yang tidak dapat dikoreksi dengan pemberian suplai oksigen melalui masker nasal.2. Keadaan ventilasi yang tidak adekuat karena meningkatnya tekanan karbondioksida di arteri.3. Kebutuhan untuk mengontrol dan mengeluarkan sekret pulmonal atau sebagai bronchial toilet.4. Menyelenggarakan proteksi terhadap pasien dengan keadaan yang gawat atau pasien dengan refleks akibat sumbatan yang terjadi. Dalam sumber lain (Anonim, 1986) disebutkan indikasi intubasi endotrakhealantara lain:a. Menjaga jalan nafas yang bebas dalam keadaan-keadaan yang sulit.b. Operasi-operasi di daerah kepala, leher, mulut, hidung dan tenggorokan, karena pada kasus-kasus demikian sangatlah sukar untuk menggunakan face mask tanpa mengganggu pekerjaan ahli bedah.c. Pada banyak operasi abdominal, untuk menjamin pernafasan yang tenang dan tidak ada ketegangan.d. Operasi intra torachal, agar jalan nafas selalu paten, suction dilakukan dengan mudah, memudahkan respiration control dan mempermudah pengontrolan tekanan intra pulmonal.e. Untuk mencegah kontaminasi trachea, misalnya pada obstruksi intestinal.f. Pada pasien yang mudah timbul laringospasme.g. Tracheostomni.h. Pada pasien dengan fiksasi vocal chords. Menurut Gisele, 2002 ada beberapa kontra indikasi bagi dilakukannya intubasiendotrakheal antara lain :a. Beberapa keadaan trauma jalan nafas atau obstruksi yang tidak memungkinkan untuk dilakukannya intubasi. Tindakan yang harus dilakukan adalah cricothyrotomy pada beberapa kasus.b. Trauma servikal yang memerlukan keadaan imobilisasi tulang vertebra servical, sehingga sangat sulit untuk dilakukan intubasi.Obat-Obatan yang Dipakai. Berikut ini adalah obat-obat yang biasa dipakai dalam tindakan intubasiendotrakheal (Anonim, 1986), antara lain :




BAB III
PENUTUP.

 KESIMPULAN
Oksigen (O2) merupakan komponen gas yang sangat berperan dalam proses metabolisme tubuh untuk mempertahankan kelangsungan hidup seluruh sel tubuh secara normal. Oksigen diperoleh dengan cara menghirup udara bebas dalam setiap kali bernafas. Dengan bernafas setiap sel tubuh menerima oksigen, dan pada saat yang sama melepaskan produk oksidasinya. Oksigen yang bersenyawa dengan karbon dan hidrogen dari jaringan memungkinkan setiap sel melangsungkan proses metabolismenya, oksigen hasil buangannya dalam bentuk karbondioksida (CO2) dan air (H2O). Terapi oksigen adalah memasukkan oksigen tambahan dari luar ke paru melalui saluran pernafasan dengan menggunakan alat sesuai kebutuhan. ( Standar Pelayanan Keperawatan di ICU, Dep.Kes. RI, 2005 ) . Terapi oksigen adalah memberikan aliran gas lebih dari 20 % pada tekanan 1 atmosphir sehingga konsentrasi oksigen meningkat dalam darah. Terapi oksigen adalah pemberian oksigen dengan konsentrasi yang lebih tinggi dari yang ditemukan dalam atmosfir lingkungan.B.
SARAN
Berdasarkan kesimpulan diatas saran yang dapat kami buat yaitu untuk lebihmemperdalam lagi tentang macam – macam pemberian oksigen karena dalam makalah kamitentunya masih banyak kekuranagannya.











DAFTAR PUSTAKA
Anonim, (2002), Endotracheal Intubation, http://www.medicinet.com/script/main/art.asp?li=mni&articlekey=7035Gail Hendrickson, RN, BS., (2002), Intubation, http://www.health.discovery.com/diseasesandcond/encyclopedia/1219.htmlGisele de Azevedo Prazeres, MD., (2002), Orotracheal Intubation, http://www.medstudents.com/orotrachealintubation/medicalprocedures.htmlMansjoer Arif, Suprohaita, Wardhani W.I., Setiowulan W., (ed)., (2002), Kapita SelektaKedokteran, edisi III, Jilid 2, Media Aesculapius Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia,Jakarta.Suanne C. Smeltzer. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. EGC. JakartaPotter & Perry. 2000. Fundamental Keperawatan Edisi IV Vol. 1. EGC. Jakarta 

Rabu, 07 November 2012

Rantai Infeksi Nosokomial


BAB I
PENDAHULUAN


1.1.   Latar Belakang
Kesehatan yang baik tergantung pada lingkungan yang aman.Praktisiatau teknisi yang memantau untuk mencegah penularan infeksi membantu melindungi klien dan pekerja keperawatan kesehatan dari penyakit.Klien dalam lingkungan keperawatan beresiko terkena infeksi karena daya tahan yang menurun terhadap mikroorganisme infeksius,meningkatnya pajanan terhadap jumlah dan jenis penyakit yang disebabkan oleh mikroorganisme dan prosedur invasif dalam fasilitas perawatan akut atau ambulatory,klien dapat terpajan pada mikroorganisme baru atau berbeda,yang beberapa dari mikroorganisme tersebut daaapat saja resisten terhadap banyak antibiotik.Dengan cara mempraktikan teknik pencegahan dan penembalian infeksi perawat dapat menghindarkan penyebaran mikroorganisme terhadap klien.


1.2.  Tujuan
  Mengetahui definisi infeksi
  Mengetahui rantai dan proses infeksi
  Mengetahui infeksi nosokomial


1.3.  Rumusan Masalah
 Mengetahui lebih detail tentang infeksi.
 Bagaimana Bentuk Rantai Infeksi





BAB II
PEMBAHASAN


2.1. Definisi
Infeksi merupakan invasi tubuh oleh patogen atau mikroorganisme yang mampu menyebabkan sakit.Infeksi juga disebut asimptomatik apabila mikroorganisme gagal dan menyebabkan cedera yang serius terhadap sel atau jaringan.Penyakitb akan timbul jika patogen berbiak dan menyebabakan perubahan pada jaringan normal.(Potter & perry .Fundamental Keperawatan.edisi 4.hal : 933 – 942:2005)
Infeksi merupakan infeksi dan pembiakan mikroorganisme pada jaringan tubuh,terutama yang menyebabkan cedera sellular lokal akibat kompetisi metabolisme,toksin,replikasi intra selular,atau respon antigen-antibodi(Kamus Saku Kedokteran Dorland,edisi 25.hal :555:1998)

2 .2 Rantai Infeksi
Perkembangan infeksi terjadi dalam siklus yang bergantung pada elemen – elemen berikut :
  Agen infeksius atau pertumbuhanm patogen
  Tempat atau sumber pertumbuhan patogen
  Portal keluar dari tempat tumbuh tersebut
  Cara penularan
  Portal masuk pejamu
  Pejamu yang rentan









A. Agen Infeksius
Infeksi terjadi akibat adanya mikroorganisme,termasuk bakteri,virus,jamur dan protozoa.Mikroorganisme di kulit dapat merupakan flora residen atau transien.Organisme residen berkembang biak pada lapisan kulit superfisial,namun 10 – 20% mendiami lapisan epidermal.Organisme transien melekat pada kulit saat seseorang kontak dengan orang atau objek lain dalam aktifitas atau kehidupan normal.
Kemungkinan bagi mikroorganisme atau parasit untuk menyebabkan penyakit bergantung pada faktor – faktor berikut :
  Organisme dalam jumlah yang cukup
  Virulensi atau kemampuan untuk menyebabkan sakit
  Kemampuan untuk masuk dan hidup dalam pejammu
  Pejamu yang rentan


Beberapa agen yang dapat menyebabkan infeksi,yaitu :
1 .Bakteri
Bakteri dapat ditemukan sebagai flora normal dalam tubuh manusia yang sehat.Keberadaan bakteri disini sangat penting dalam melindungi tubuh dari datangnya bakteri patogen.Tetapi pada beberapa kasus dapat menyebabkan infeksi jika manusia tersebut meniliki toleransi yang rendah terhadap miikrooorganisme.Cintohnya Escherechia coli paling banyak dijumpai sebagai penyebab infeksi saluran kemih.
Bakteri patogen lebih berbahaya dan menyebabkan infeksi secara aparodik maupun endemik.
Contohnya :anaerobik Gram–positif,Clostridium yang menyebabkan gangren
  Bakteri Gram-positif : Staphylococcus aureus yang menjadi parasit di kulit dan hidung dapat menyebabkan gangguan pada paru,tulang,jantung dan infeksi pembuluh darah serta seringkali telah resisten terhadap antibiotika.
  Bakteri Gram-negatif : Enerobacteriacae,contohnya Escherechia coli,Proteus,Klebsiella,Enterobacter.Pseudomonas seringkali ditemukan di air dan penampungan air yang menyebabkan infeksi di saluran pencernaan pasien yang dirawat.Bakteri gram negatif  ini bertanggung jawab sekitar setengah dari semua infeksi di rumah sakit.
  Serratia marcescens,dapat menyebabkan infeksi serius pada luka bekas jahitan,paru dan peritoneum.

2 .Virus
Banyak kemungkinan infeksi nosokomial disebabkan oleh berbagai macam virus,termasuk virus hepatitis  B dan C dengan media penularan dari tranfusi,dialisis,suntikan dan endoskopi. Respiratory syncytial virus (RSV),rotavirus dan enterovirus yang ditularkan dari kon\tak tangan ke mulut atau melalui rute faecal-oral.Hepatitis dan HIV ditularkan melalui pemakaian jarum suntik,dan trasfusi darah.Rute penularan untuk virus sama seperti mikroorganisme lainnya.Infeksi gastrointestinal,infeksi traktus respiratorius,penyakit kulit dan dari darah.Virus lain yang sering menyebabkan infeksi nosokomial adalah cytomegalovirus,Ebola,influenza virus,herpes simplex virus,dan varicella-zoster virus,juga dapat ditularkan.

3 .Parasit dan Jamur
Beberapa parasit seperti Giardia lamblia dapat dengan mudah menular ke orang dewasa maupun anak-anak.Banyak jamur dan parasit dapat timbul selama pemberian obat antibiotika bakteri dan immunosupresan,contohnya infeksi dari Candida albicans,Aspergiilus spp,Cryptococcus neformans,Cryptosporidium.

B. Reservoar
Reservoar adalah tempat patogen mampu bertahan hidup tetapi dapat atau tidak berkembang biak.Rservoir yang paling umum adalah tubuh manusia.Berbagai mirroorganisme hidup pada kulit dan dalam rongga tubuh,cairan dan keluaran.Untuk berkembang biak dengan cepat mkroorganismer memerlukan lingkungan yang sesuai,termasuk makanan,oksigen,air,suhu yang tepat,pHdan cahaya.
  Makanan,mikroorganisme memerlukan untuk hidup,seperti Clostridium perfringens,mikroba yang menyebabkan gangren gas,berkembang pada materi organik lain,seperti E.coli mengkonsumsi makanan yang tidak dicerna di usus.Organisme lain mendapat makanan dari karbondioksida dan materi organik seperti tanah.
  Oksigen,bakteri aerob memerlukan oksigen untuk bertahan hidup dan multiplikasi secukupnya untuk menyebabkan sakit.Contohnya adalah Staphylococcus aureus dan turunan organisme Streptococccus sedangkan bakteri anaerob berkembang biak ketika terdapat atau tidak ada tersedia oksigen bebas.Bakteri ini yang mampu menyebabkan tetanus,gas gangrene dan botulisme.
  Air,kebanyakan mkroorganisme membutuhkan air atau kelembaban untuik bertahan hidup.Dan ada juga beberapa bakteri yang berubah bentuk,disebut dengan spora,yang resisten terhadap kekeringan.
  Suhu,mikroorganisme dapat hidup hanya dalam batasan suhu terentu.Namun beberapa dapat hidup dalam temperatur yan g ekstrem yang mungkin fatal bagi manusia.Misalnya virus AIDS,resisten terhadap air mendidih.
  pH,keasaman suatu lingkungan menentukan kemampuan hidup suatu mikroorganisme.Kebanyakan organisme lebih menyukai lingkungan dalam batasan pH 5-8.
  Cahaya,mikroorganisme berkembang pesat dalam lingkungan yang gelap seperti di bawah balutan dan dalam rongga tubuh.Sinar ultra violet dapat eektif untuh membunuh beberapa bentuk bakteri.

C. Portal Keluar
Setelah mikroorganisme menemukan tempat untuktumbuh dan berkembang biak,mereka harus menemukan jalan keluar jika mereka masuk ke pejamu lain dan menyebabkan penyakit.
Mikroorganisme dapat keluar melalui berbagai tempatm,seperti kulit dan membran mukosa,traktus respiratoris,traktus urinarius,traktus gastrointestinal,traktus reproduktif dan darah.


D. Cara Penularan
Ada banyak cara penularan mikroorganisme dari reservoar ke pejamu.Penyakit infeksius tertentu cenderung ditularkan secara lebih umum melalui cara yang spesifik.Namun,mikroorganisme yang sama dapat ditularkan melalui satu rute.Meskipun cara utama penularan mikroorganisme adalah tangan dari pemberi layanan kesehatan,hampir semua objek dalam lingkungan dapat menjadi alat penularan patogen.Semua personel rumah sakit yang memberi asuhan langsuing dan memberi pelayanan diagnostik dan pendukung harus mengikuti praktik untuk meminimalkan penyebaran infeksi.

E. Portal Masuk
Organisme dapat masuk ke dalam tubuh melalui rute yang sama dengan yang digunakan untuk keluar.Misalnya,pada saat jarum yang terkontaminasi mengenai kulit klien,organisme masuk ke dalam tubuh.Setiap obstruksi aliran urine memungkinkan organisme untuk berpindah ke uretra.Kesalahan pemakaian balutan steril pada luka yang terbuka memungkinkan patogen memasuki jaringan yang tidak terlindungi.Faktor- faktor yang menurunkan daya tahabn tubuh memperbesar kesempatan patogen masuk ke dalam tubuh.

F. Hospes Rentan
Seseorang terkena  infeksi bergantung pada kerentanan dan bergantung pada derajat ketahanan individu terhadap patogen,meskipun seseorang secara konstan kontak dengan mikroorganisme dalam jumlah yang besar,infeksi tidak akan terjadi sampai individu rentan terhadapjumlah mikroorganisme tersebut.Makin banyak virulen suatu mikroorganisme makin besar didapati muncul di lingkungan perawatan akut.


2.3. Proses Infeksi
Infeksi terjadi secara progresif,berat ringannya penyakit klien tergantung pada tingkat infeksi,patogenesitas mikroorganisme dan kerentanan pejamu.Didalam proses infeksi memiliki tahapan tertentu yaitu :
  Periode Inkubasi
Interfal antara masuknya patogen dalam tubuh dan munculnya gejala utama.
  Tahap Prodomal
Interpal dari awitan tanda gejala non spesifik(malaise,demam ringan,keletihan)sampai gejala yang spesifik selama masa ini,mikroorganisme tumbuh dan berkembang biak dan klien mampu menularkan ke orang lain.
  Tahap Sakit
Interpal saat klien memanifestasikan tanda dan gejala yang lebih spesifik terhadap jenis infeksi.
  Tahap Pemulihan
Interpal saat munculnya gejala akut infeksi ,lama penyembuhannyatergantung pada beratnya infeksi dan keadaan umum kesehatan klien.


2.4. Pertahanan Terhadap Infeksi
Tubuh memiliki pertahanan normal terhadap infeksi,yaitu :
  Flora Normal
Flora normal tubuh dapat melindungi seseorang terhadap beberapa patogen,normalnya tubuh mengandung mikroorganisme yang ada pada lapisan permukaan dan di dalam kulit,saliva,mukosa oral,dan gastrointestinal.
Flora normal dalam usus besar hidup dalam jumlah besar tanpa menyebabkan sakit.Flora normal juga mensekresi substansi antibakteri di dalam usus.
  Pertahanan Sistem Tubuh
Sejumlah sistem organ tubuh memiliki pertahanan tubuh yang unik terhadap mikroorganisme.Setiap sistem organ memiliki mekanisme pertahanan yang secara fisiologis disesuaikan dengan struktur dan fungsinya.Misalnya paru jalan masuk mikroorganisme dilapisi oleh tonjolan seperti rambut atay silia yang secara ritmis bergerak unruk memindahkan mukus dan organisme yang yang melekat di faring untuk di ekshalasi.
  Inflamasi
Inflamasi merupakan reaksi protektif vaskuler dengan menghantarkan cairan,produk darah dan nutrient ke jaringan interstisial ke daerah cedera.Proses tersebut mampu menetralisasi dan mengerliminasi patogen atau jaringan mati dan memulai cara perbaikan sel dan jaringan tubuh.
  Respon Imun
Saat mikroorganisme menginvasi memasuki tubuh,mikroorganisme tersebut diserang pertama kali oleh monosit.Sisa mikroorganisme tersebut kemudian memicu respon imun,materi yang tertinggal (antigen) menyebabkan kerentanan respon yang mengubah susunan biologis tubuh sehingga reaksi untuk paparan berikutnya berbeda dengan reaksi pertama ,respon yang berubah ini dikenal dengan respon imun.


2 .5.  Infeksi Nosokomial
Infeksi nosokomial disebabkan oleh pemberian layanan kesehatan dalam fasilitas keperawatan kesehatan,rumah sakit merupakan satu tempat yang paling mungkin terdapat infeksi karena populasi mikroorganisme yang tinggi dengan jenis virulen yang mungkin resisten terhadap antibiotik.
Jenis infeksi nosokomial yaitu infeksi iantrogenik yang di akibatkan oleh prosedur diagnostik dan terapiutik.Contohnya infeksi traktus urinarius yang terjadi setelah infeksi kateter.
Infeksi nosokomial dapat secara eksogen atau endogen
Infeksi eksogen didapat dari mikroorganisme eksternal terhadap individu,yang bukan merupakan flora normal contohnya adalah organisme salmonella dan klostridiun tetani.
 Infeksi endogen dapat terjadi bila sebagian dari flora normal klien berubah dan terjadi pertumbuhan yang berlebihan.Contohnya adalah infeksi yang disebabkan oleh enterococcus,ragi dan streptococccus.   






BAB III
PENUTUP

3.1.       Kesimpulan
Upaya untuk mencegah kejadian infeksi nosokomial yang penting adalah penerapan standar precaution baik bagi pasien, petugas, lingkungan dan alat kesehatan, dengan tujuan untuk memutuskan rantai penularanya.
Pendidikan bagi tenaga kesehatan sangat mendukung dalam upaya pengendalian infeksi, untuk itu pendidikan infeksi harus diberikan secara terus menerus.
1.     Infeksi nosokomial adalah suatu infeksi yang diperoleh/dialami pasien selama dia dirawat di rumah sakit dan infeksi itu tidak ditemukan/diderita pada saat pasien masuk rumah sakit.
2.     Peranan instalasi gizi dalam pengendalian dan pencegahan infeksi nosokomial adalah sebagai berikut:
a.      Menjaga kebersihan dalam pengolahan makanan.
b.     Menerapkan teknik aseptis dalam perawatan peralatan untuk pengolahan makanan.
c.      Menerapkan berbagai tata tertib pada petugas pengelola makanan.

3.2.            Saran
1.     Sebaiknya para petugas pengelola makanan selalu menjaga kebersihan dan menerapkan teknik aseptis dalam mengolah makanan.
2.     Sebaiknya setiap instalasi gizi harus menjaga kebersihan peralatan yang digunakan untuk mengolah makanan.
DAFTAR  PUSTAKA

Ø  iregar, Charles., 2004. Farmasi Klinik Teori dan Penerapan,Buku kedokteran EGC,Jakarta.

Ø  Hermawan Guntur, 2004.Perspektif Masa Depan ImunologiInfeksi,Sebelas MaretUniversity Press, Surakarta.

Ø  Soeparman, dkk., 2001. Ilmu Penyakit Dalam Jilid II . Balai Penerbit FKUI, Jakarta

Ø  Parhusip, 2005. Jurnal Faktor-faktor yang Mempengaruhi Terjadinya Infeksi Nosokomial Serta Pengendalian di BHG. UPF. Paru RS. Dr. Pirngadi/Lab. PenyakitParuFK-USU Medane-USU Repsoitory.

Ø  Tietjen, L.,dkk (terj. Saifuddin, AB,dkk): Panduan Pencegahan Infeksi : Untuk Fasilitas Pelayanan Kesehatan dengan Sumber Daya Terbatas